Posts in Category: Liga Italia

Juventus Puncak Pencapaian Karir Khedira

Gelandang bertahan Juventus, Sami Khedira mengaku bahwa bermain untuk Juventus merupakan salah satu pencapaian tertinggi dalam karir sepakbolanya. Pemain asal Jerman tersebut menyebutkan jika Juventus telah berhasil membuatnya merasakan bagaimanan rasanya berada di puncak kejayaaan. Oleh karena itu, pria blasteran Jerman-Tunisia tersebut pun berniat untuk terus meningkatkan kualitasnya di Juve.

Sami Khedira bersama Juventus

Sami Khedira bersama Juventus

Italia memang merupakan tempat yang sangat menarik menurut Khedira. Pemain berusia 28 tahun tersebut mengaku cukup takjub melihat bagaimana antusiasme warga Negeri Pizza tersebut terhadap sepakbola. Khedira pun sampai berpendapat bahwa bagi masyarakat lokal, sepakbola sudah diibaratkan seperti sebuah agama. Itulah alasan mengapa Khedira bisa begitu kagum dengan kehidupan barunya di Italia.

Menjalani bulan puasa yang telah memasuki hari ke-20 ini, Sam Khedira berbagi pengalamannya soal puasa di negeri orang. Hijrah ke Kota Turin sejak 2015 lalu, ini merupakan tahun kedua Khedira menjalankan puasa di Italia. Khedira bercerita bahwa dirinya sama saja tidak bisa menjalankan ibadah puasa sebulan penuh seperti di Jerman lantaran rutinitas latihan dan bertanding. Simak artikel lengkapnya di bawah ini.

Khedira Tidak Puasa Jika Jadwal Bertanding Padat

Lahir dari pasangan Muslim keturunan Tunisia, sejak kecil Khedira memang telah mendapat pendidikan Islami dari keluarganya. Bahkan hingga kini dirinya menjadi seorang pemain profesional pun, nilai-nilai keislaman masih dipegang teguh Khedira. Namun untuk urusan ibadah puasa di bulan ramadhan ini, Khedira mengaku masih sangat sulit untuk menjalankannya sebagai pemain sepakbla.

Jadwal padat, Khedira jadi jarang puasa

Jadwal padat, Khedira jadi jarang puasa

Khedira dengan jujur mengatakan kepada media bahwa dirinya terkadang tidak berpuasa penuh selama 30 hari. Hal ini disebabkan oleh tuntutan pekerjaannya sebagai pemain sepakbola profesional. Latihan dan jadwal pertandingan yang ketat memang menuntut kondisi fisik yang memadai. Karena itu Khedira mengaku performanya bisa tidak maksimal jika memaksakan diri berpuasa.

“Seorang Muslim seharusnya berpuasa selama 30 hari sejak matahari terbit hingga tenggelam,” kata dia dalam sebuah wawancara. “Tetapi saya seorang atlet yang kompetitif, saya membutuhkan tenaga saya, yang tidak mungkin saya dapatkan tanpa makanan,” ujar Khedira kepada sebuah media berita Arab Saudi.

Sebenarnya, ketika masih bermain di Bundesliga, Khedira selalu berpuasa di bulan Ramadhan. Dilansir dari sebuah situs berita Arab Saudi dalam artikel yang berjudul ‘ خضيرة نادرا ما يعترف الصيام ‘ (Khedira Akui Dirinya Jarang Puasa) , dirinya menegaskan bahwa dirinya terkadang tidak menjalankan puasa. Kondisi seperti ini pun mendapat dukungan Dewan Muslim Jerman atau semacam MUI di Indonesia.

Fatwa Dewan Muslim Jerman mengizinkan pemain sepak bola Muslim profesional untuk tidak berpuasa di bulan Ramadan. Tujuannya agar performa di lapangan tidak menurun. Dengan begitu, klub yang sudah membayar mahal tidak dirugikan akibat sang pemain tidak dapat tampil maksimal lantaran tidak memiliki tenaga. Namun wajib hukumnya bagi mereka untuk menggantinya di hari lain.

Khedira Sebut Sepakbola di Italia Seperti Agama

Khedira merasa nyaman berada di Italia

Khedira merasa nyaman berada di Italia

Meski untuk menjalankan ibadah puasa di Italia sedikit lebih berat ketimbang di Jerman, Khedira mengaku nyaman bermain untuk Si Nyonya Tua. Adalah kehidupan serta masyarakat Kota Turin lah yang membuat Khedira kerasan disana. Antusiasme para warganya akan sepakbola juga mengesankan sosok mantan pemain Real Madrid tersebut.

“Di Italia, warganya hidup untuk sepak bola. Ini seperti agama saja. Saya sangat senang berada di Juventus. Juventus merupakan klub besar. Begitu ada kesempatan untuk pindah ke klub, saya tidak bisa melewatkannya,” tegas pria yang pernah memperkuat VfB Stuttgart tersebut.

Pria berusia 28 tahun tersebut mengaku tidak menyesal meninggalkan Santiago Bernabeu dan bergabung dengan tim besutan Massimiliano Allegri. Bersama Juventus, Khedira telah mencatat 1 gol dari 5 penampilan nya di Serie A. Dan sejauh ini juga tercatat dirinya telah melepaskan 165 umpan pendek, 13 umpan sundulan dan 8 umpan panjang dengan tingkat keberhasilan sebesar 87 persen.

Pemain Muslim dan Rasisme Serie A

Italia tidak pernah bebas dari permasalahan rasisme khususnya dari sektor sepakbola yaitu Liga Italia Serie A. Tak terhitung masalah yang melibatkan klub-klub Serie A yang disebabkan oleh permasalahan rasisme. Tidak hanya dari penonton saja, sesama pemain pun terkadang masih saja ada yang terlibat masalah karena persoalan rasisme.

Mehdi Benatia sempat terlibat masalah rasisme dengan salah satu stasiun tv Italia

Mehdi Benatia sempat terlibat masalah rasisme dengan salah satu stasiun tv Italia

Banyak hal yang mmenjadi penyebab pelecehan SARA di Liga Italia dan warna kulit menjadi salah satu penyebab terbesar. Akan tetapi selain perbedaan warna kulit yang bersumber dari perbedaan suku tersebut, perbedaan keyakinan/agama juga kerap menjadi penyebab. Seperti kejadian yang menimpa sosok Mehdi Benatia di awal bulan Mei lalu.

Sebagai sosok seorang pemain asing dan juga muslim Mehdi Benatia sempat mengalami pengalaman tidak menyenangkan sebulan silam. Dirinya merasa dipermalukan saat melakukan live telewicara dengan sebuah stasiun tv di Italia. Benatia mengaku bahwa dirinya mendengar kata-kata yang tidak pantas di studio tempat acara tersebut berlangsung.

Kejadian tersebut terjadi usai Juventus hanya berhasil meraih hasil imbang saat menjalani Derby Turin pada 7 Mei 2017 yang lalu. Padahal dalam laga tersebut Il Bianconeri berstatus sebagai tuan rumah. Benatia yang pada saat itu kebetulan menjadi narasumber telewicara seperti menjadi bulan-bulanan hingga dirinya harus mendengar kata-kata kurang pantas.

Benatia Disebut ‘Maroko Sialan’

Sebuh acara televisi swasta di Italia tertangkap kamera saat melakukan tindakan rasisme kepada bek Juventus, Mehdi Benatia. Benatia saat itu tengah terlibat telewicara dengan stasiun TV tersebut usai Juventus meraih hasil imbang 1-1 atas Torino pada 7 Mei lalu. Pada saat itu, Benatia yang tengah diwawancara lewat telepon tersebut terlihat mencari sumber suara tersebut.

Stasiun TV Rai yang melakukan tindakan rasisme kepada Mehdi Benatia

Stasiun TV Rai yang melakukan tindakan rasisme kepada Mehdi Benatia

Benatia tengah menjawab pertanyaan pewawancara tersebut, akan tetapi di tengah-tengah mantan pemain Bayern Munchen rtersebut menghentikan kata-katanya. Sang pemain menghentikan jawabannya karena dirinya mengaku mendengar seseorang di studio melontarkan kata-kata berbau rasisme terhadap dirinya.

“Tunggu, siapa itu yang berbicara tadi? Suara siapa itu? Saya mendengan seseorang berbicara disana, coba ulangi lagi perkataan tersebut. Saya mendengar kata-kata tidak pantas yang menyinggung saya.” ujar Benatia dalam telewicara tersebut.

Pihak televisi tersebut pun segera memotong telewicara tersebut dengan berkata bahwa terjadi masalah teknis. Akan tetapi salah satu official pers Juventus mengatakan bahwa Benatia tersulut emosinya lantaran mendengar ujaran rasis ketika sedang telewicara tadi. Terkait hal ini, pihak stasiun televisi tersebut pun segera mengklarifikasi permasalahan ini.

Pihak Stasiun Televisi Akhirnya Meminta Maaf

Benatia telah terima permintaan maaf dari stasiun TV Rai

Benatia telah terima permintaan maaf dari stasiun TV Rai

Sebelum akhirnya permasalahan ini menjadi besar, akhirnya stasiun televisi asal italia yang diketahui bernama bernama Rai 2 TV tersebut menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada Benatia. Dilansir sebuah media berita online asal Arab dalam berita mereka yang diberi judul تعثرت محطة التلفزيون الإيطالية حالة من العنصرية (Stasiun TV Italia Tersandung Kasus Rasisme), pihak televisi tersebut meminta maaf secara on air.

“Rai dengan tulus menyesalkan insiden rasisme yang menyedihkan yang melibatkan pemain Juventus Benatia dalam program Calcio Champagne kami dan untungnya tidak terdengar oleh para penonton, karena hal itu tidak disiarkan,” ujar salah satu penyiar Rai menyampaikan permintaan maaf mewakili stasiun tv tersebut.

“Rai telah menggerakkan semua upaya untuk mengidentifikasi siapa yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi dan saat ini analisis teknis mengecualikan bahwa frase yang tidak dapat diterima diucapkan oleh perusahaan kami. Penyelidikan tetap berlanjut namun mengingat beratnya apa yang terjadi pada Rai, sementara itu, kami menawarkan solidaritas lengkap dan menyeluruh kepada pemain dan klubnya.”